Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan kembali menambah deretan dosennya yang meraih gelar Doktor. Kemarin (5/4), Moh. Hefni, M.Ag., salah seorang Dosen STAIN Pamekasan yang juga Ketua Program Studi Hukum Perdata Islam, berhasil meraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Sosial (Sosiologi) dari Program Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dalam sidang Ujian Doktor Terbuka, mantan Aktivis PMII dan GP. Ansor Pamekasan ini berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Islam Madura: Sebuah Studi Konstruktivisme-Strukturalis tentang Relasi Islam Pesantren dan Islam Kampung di Madura”. Sidang Ujian Terbuka tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Laurentius Dyson, MA, dengan anggota, antara lain, Prof. Dr. HM. Ridlwan Nasir, MA (Direktur Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya), Prof. Dr. H. Sri Iswati. SE., M.Si., AK., Prof. Dr. Hanafi M., dr., SpKG., dan Prof. Dr. Moetmainnah Prajitno, drg., SpKG.
Sebelumnya, suami Deasy Andaruni Kusuma ini berhasil melewati sidang Ujian Doktor Tertutup dengan penguji, antara lain, Prof. Soetandyo Wignjosoebroto, MPA., Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA., Prof. Dr. H. Kacung Marijan, MA., Prof. Dr. Ramlan Surbakti, MA., Prof. Dr. Mustain Mashud, M.Si., dan Dr. Myrtati Dyah Artaria, MA.
Dalam disertasinya, Wakil Ketua LP. Ma’arif NU Pamekasan ini menguraikan tentang relasi antara Islam Pesantren yang dipimpin oleh para kyai NU Cabang Sumenep dan Islam Kampung oleh dipimpin oleh kyai kampung atau ketua adat di Desa Pinggir Papas Kecamatan Kalianget Sumenep. Relasi keduanya bersifat dominasi-subordinasi dalam bentuk kuasa simbolik (symbolic power). Dominasi yang berbentuk kuasa simbolik itu dilakukan oleh kalangan Islam Pesantren atas Islam kampung. Menghadapi kuasa simbolik kalangan Islam pesantren, kalangan Islam kampung melakukan resistensi dan adaptasi. Disertasi ini juga membantah berbagai studi sebelumnya yang memandang sinkretisme keagamaan sebagai sesuatu yang bersifat being (menjadi). Sebaliknya, studi ini menghasilkan temuan bahwa sinkretisme keagamaan sebagaimana yang dipresentasikan oleh kalangan Islam kampung sebagai state of becoming (menuju menjadi). Ini ditunjukkan oleh praktik ritual ekologis Islam kampung yang di satu sisi mempertahankan aspek sinkretisme dan di sisi lain melakukan perubahan atas elemen-elemen dalam tradisi tersebut sehingga bersifat akulturatif. “Agar bisa dinikmati oleh masyarakat Madura, insyaallah disertasi ini akan diterbitkan dalam bentuk buku”, pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar